tulisan 4 ekonomi koprasi #
Dampak Positif dan Negatif dari Ojek Online.
Tulisan ini ditunjukan untuk tugas softskill mata kuliah
Ekonomi Koprasi #
Di tulisan kali ini saya mencari
dampak positif dan negatif ojek onlie .
A
Pengertian Ojek
Ojek atau ojeg adalah transportasi umum informal di Indonesia yang
berupa sepeda motor. Disebut informal karena keberadaannya tidak diakui
pemerintah dan tidak ada izin untuk pengoperasiannya. Penumpang biasanya
berjumlah satu orang. Dengan harga yang ditentukan dengan tawar menawar dengan
supir ojek terlebih dahulu, maka supir ojek tersebut akan mengantar ke tujuan
yang diinginkan penumpangnya. Ojek banyak digunakan oleh penduduk di kota-kota
besar karena kelebihannya dengan angkutan lain, yaitu lebih cepat dan dapat
melewati sela-sela kemacetan di kota. Biasanya ojek mangkal di persimpangan
jalan yang ramai, atau di jalan masuk kawasan pemukiman.
B
Pengertian Masyarakat
Masyarakat
adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi
terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang
berada dalam kelompok tersebut.
C
Sejarah Ojek Online
Perusahaan
ojek online sendiri didirikan oleh salah satu penumpang ojek konvensional,
Nadiem Makariem. Dengan salah satu tukang ojek langganannya, ia mengetahui
bahwa waktu luang tukang ojek banyak digunakan hanya untuk duduk menunggu
penumpang datang. Sungguh sangat disayangkan jika banyak waktu yang terbuang
percuma hanya untuk menunggu seorang penumpang. Maka dari itu Nadiem mulai
berfikir dan memutuskan untuk membuat sebuah aplikasi seperti media sosial,
yang bisa digunakan oleh tukang ojek untuk memudahkan pelanggannya melakukan
pemesanan secara online. Pada tahun 2011 Nadiem berhasil membuat sebuah
perusahaan dan aplikasi online bernama Go-Jek. Biaya yang dikeluarkan untuk
mendapat layanan ini juga tergolong murah. Untuk jarak 1 – 10 km, dikenakan
biaya sekitar Rp. 12.000, jarak 11 – 15 km Rp. 15.000, dan jarak di atas 15 km
dikenakan biaya Rp. 2.000/km.
D
Dampak positif
1. Mempermudah warga
Sebagian besar pengguna jasa ojek online
mengaku dimudahkan dengan layanan jemput di lokasi. Mereka tidak perlu
repot-repot mencari pangkalan ojek lagi. Cukup memesan layanan melalui layar
smartphone, pengemudi ojek online siap mengantar
2. Menghemat ongkos
Adanya promosi yang dibuat oleh para perusahaan
ojek online membawa keuntungan pada konsumen.
Seperti Go-Jek dan Grab Bike. Dengan memberi
promo tarif flat, keduanya memanjakan konsumennya dengan tarif flat sekitar Rp
5.000 hingga Rp 15.000 dalam jarak km tertentu.
"Saya biasanya kalau ke kantor naik ojek
yang dekat rumah, tapi sekarang lebih nyaman naik ojek online. Lebih murah
soalnya, bisa hemat berapa ribu, lumayan," kata Toto (34), seorang
karyawan yang berkantor di Jakarta Selatan.
3. Lapangan kerja
Pendapatan ojek online yang lumayan
dibandingkan ojek pangkalan, cukup menggiurkan. Ojek pangkalan yang melihat
peluang ini memilih bergabung dengan ojek online.
Bahkan, ketika gembar-gembor pendapatan dari
ojek online hingga puluhan juta sebulannya, beberapa pegawai swasta tertarik
bergabung sebagai pekerjaan sampingan.
Bahkan, ada yang rela meninggalkan pekerjaannya
sebagai manajer sebuah perusahaan, karena tergiur dengan pendapatan yang
lumayan besar.
Seperti pengojek Grab Bike, Rudianto (26). Sejak
bergabung dengan Grab Bike, 20 Mei 2015 lalu, pendapatan terbesar Rudianto
dalam sebulan bisa mencapai Rp 23 juta. Wow!
E
Dampak Negatif
1. Menambah Kemacetan
Meski mengklaim diri berbeda dengan ojek
pangkalan, kenyataan di lapangan, pengojek online tetap membuat beberapa
pangkalan atau memang mangkal di sebuah tempat sambil menunggu order dari
konsumen. Tidak jarang, trotoar hingga badan jalan jadi tempat mangkal pengojek
online.
Kondisi ini sampai membuat Polda Metro Jaya dan
Dishubtrans DKI Jakarta sepakat untuk menindak tegas para pengojek online yang
mangkal, terutama di trotoar.
Salah satu tempat favorit untuk mangkal para
pengojek online adalah di depan Mal Taman Anggrek dan depan Central Park,
Jakarta Barat.
Salah satu pengojek online yang mangkal di
sana, Rudi (36), mengaku sengaja berada di sana sejak pukul 16.00 WIB hingga
20.00 WIB. Menurut dia, lebih mudah untuk mengambil order jika menetap di sana
karena konsumen yang memesan dari apartemen Mal Taman Anggrek dan sekitarnya
cukup banyak.
2. Konflik dengan ojek pangkalan
Dinamika antara pengojek online dengan pengojek
pangkalan yang lebih "senior" beberapa kali terjadi. Dengan layanan
ojek online yang tampak lebih laku, pengojek pangkalan merasa terintimidasi.
Tempat yang paling terlihat konflik antara
pengojek online dengan pengojek pangkalan adalah di Apartemen Kalibata City,
Pancoran, Jakarta Selatan. Di pintu masuk saja, ada papan pengumuman yang
mengatasnamakan komunitas ojek pangkalan di sana menolak Go-Jek dan Grab Bike.
Konflik antara keduanya sampai memicu kontak fisik hingga perkelahian.
Konflik pengojek online dan pengojek pangkalan
tidak berlangsung lama. Kini, kebanyakan pengojek pangkalan sudah mau bergabung
dengan perusahaan ojek online.
Mereka yang masih bertahan sebagai pengojek
pangkalan, sudah bisa menerima keberadaan pengojek online yang dianggap
memiliki konsumen berbeda.
Sumber link :


Komentar
Posting Komentar